Selasa, 25 Desember 2012

psikologi dan penerapannya dalam kepemimpinan



PSIKOLOGI KESEHATAN
“ PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA DALAM KEPEMIMPINAN”





OLEH
HERLINA
F1D2 10 130


FAKULTAS  KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012








PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA DALAM KEPEMIMIPINAN
A.    Definisi

Ø  Definisi psikologi

Menurut Wilhem Wundt (1832-1920) memberikan batasan pengertian psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari/menyelidiki pengalaman yang timbul dalam diri manusia seperti pengalaman perasaan, panca indra, merasakan sesuatu, berfikir dan berkehendak ; bukannya mempelajari/menyelidiki pengalaman di luar diri manusia karena pengalaman demikian menjadi objek penyelidikan ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan alam (fisika).

Menurut broadus Warson (1842-1910) seorang ahli psikologi Amerika Serikat berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku lahiriah manusia dengan menggunakan metode-metode observasi (pengamatan) secara objektif seperti terhadap ransangan (stimulus) dan jawaban (respons) yang menimbulkan tingkah laku, psikologi bukan mempelajari tentang kesadaran manusia.

Menurut George A. Miller seorang sarjana psikologi Amerika Serikat mendefinisikan psikologi sebagai ilmu psikologi dengan demikian mempunyai obyek pembahasan yang berupa pengetahuan tentang mental manusia. Mental atau jiwa manusia secara keseluruhan.

Ø  Definisi Kepemimpinan
            Definisi kepemimpinan secara luas meliputi proses pempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi interpretasi  mengenai peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasisan dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kelompok, perolehan dukungan dan kerja sama dan orang-orang diluar kelompok ata organisasi.
Jadi pada hakekatnya esensi kepemimpinan adalah :
a.       Kemampuan mempengaruhi tatalaku orang lain, apakah dia pegawai bawahan, rekan sekerja atau atasan.
b.      Adanya pengikut yang dapat dipengaruhi baik oleh ajakan, anjuran, bujukan, sugesti, perintah, saran atau bentuk lainnya.
c.       Adanya tujuan yang hendak dicapai.

Kepemimpinan dalam penelitian Hersey dan Blanchard (1988) adalah proses mempengaruhi kegiatan individu atau kelompok dalam usaha mencapai tujuan pada situasi tertentu. Hasil penelitian Palupi (2004) menyatakan ada dua kepemimpinan yang biasa diperlihatkan oleh atasan.
·         Pertama yaitu kepemimpinan transaksional yakni kepemimpinan yang didasarkan pada transaksi untuk setiap pekerjaan yang dihadapi pemimpin dan menitikberatkan imbalan berupa ganjaran atau berupa hukuman atas hasil kerja yang diperintahkan.
·         Kedua adalah kepemimpinan transformasional yakni kepemimpinan yang dinamis dan selalu mengadakan pembaharuan, pimpinan seperti ini akan selalu memotivasi bawahan untuk bekerja guna mencapai sasaran, karena kesadaran sebagai pendorong , fasilitator dan katalisator.
    

           
B.     Psikologi Dan Penerapannya Dalam Kepemimipinan      

Penerapan psikologi dalam kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinarja bawahannya.
           
Dalam psikologi kepemimpinan memiliki tiga pola dasar yaitu yang mementingkan pelaksanaan tugas, yang mementingkan hubungan kerja sama, dan yang mementingkan hasil yang dapat dicapai. Sehingga sikap kepemimpinan yang paling tepat adalah suatu sikap yang dapat memaksimumkan produktivitas, kepuasan kerja, penumbuhan dan mudah menyesuaikan dengan segala situasi.

Kepemimpinan, sampai hari ini tetap dianggap sebagai faktor yang sangat penting. Frost (2003) menekankan bahwa akibat krisis kepemimpinan, banyak orang yang menderita, yang mengalami burn-out, yang tidak dapat menikmati hidup dalam pekerjaannya, serta banyak biaya yang dikeluarkan untuk mengobati sakit emosional di tempat kerja.

Menurut Locke (2002) pemimpin yang efektif dalam hubungan dengan bawahan adalah pemimpin yang mampu meyakinkan mereka bahwa kepentingan pribadi dari bawahan adalah visi pemimpin, serta mampu meyakinkan bahwa mereka mempunyai andil dalam mengimplementasikannya

Teori Tappen (1995) menjelaskan bahwa pemimpin yang efektif adalah seseorang yang berhasil mempengaruhi orang lain untuk bekerjasama dalam keadaan produktif dan keadaan yang memuaskan, serta teori Gibson (1997) mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja individu dalam organisasi adalah kepemimpinan. Ini artinya jika pemimpin efektif dalam memimpin maka akan memberi dampak positif terhadap kinerja anggotanya, dan sebaliknya apabila pemimpin tidak efektif akan memberikan dampak yang negatif terhadap kinerja anggotanya. Kepemimpinan yang efektif akan menciptakan suasana kerja yang nyaman bagi anggotanya sehingga anggotanya akan menyadari dan mau meningkatkan kemampuan dalam meningkatkan kinerjanya.

Kompetensi seseorang dalam memimpin perubahan yang selalu terkait dengan kemampuan kognitifnya (misalnya kemampuan dalam mendefinisikan dan mengelola suatu masalah). Kompleksitas kognitif perlu untuk mengembangkan mental yang lebih baik, serta kematangan emosional sangat diperlukan untuk belajar dari kesalahan-kesalahan, sedangkan fleksibilitas diperlukan untuk mengubah asumsi dan cara-cara berfikir sebagai tanggapan atas perubahan dunia yang memerlukan kecerdasan spiritual ( Conger, 1993).

Peran kompetensi kepemimpinan telah banyak diuji di berbagai situasi, terutama dalam menyelesaikan konflik yang timbul dalam perusahaan. Dalam memandang permasalahan yang terjadi baik di lingkungan internal maupun eksternal, pemimpin yang kompeten sekalipun akan dituntut untuk memiliki kecerdasan emosi. Pemimipin yang memiliki kecerdasan emosi dapat menunutun orang lain untuk mampu melakukan kearifan hidup. Kearifan itu sendiri berasal dari penerapan kecerdasan spiritual untuk memahami persoalan utama dalam kehidupan ( Salim, 1999).

Sebuah penelitian yang dilakukan di India bahwa para pemimpin organisasi yang memiliki kompetensi emosi rendah dalam memimpin organisasi akan menghasilkan produktifitas rendah dan cara pengelolaan yang rendah (tidak berkenbang) pula. Hal ini dapat dilihat dari kreatifitas dan komunikasi yang dilakukannya dalam membahas visi dan nilai-nilai organisasi dalam upayanya membenahi sumber daya manusia yang terdiri atas bermaca-macam individu, kepercayaan, ide-ide, dan cara-cara berpikir serta berprilaku (Punia, 2003).

Dalam merumuskan kompetensi emosi dari pengaruh seorang pemimpin, baik secara kelompok, departemen, maupun dalam organinasi, banyak pemimpin yang bisa memelihara keseimbangan tersebut dengan menjaga motivasi aturan model yang positif dalam dirinya sebagai sarana untuk memberikan motivasi dan inspirasi terhadap karyawan di lingkungannya. Demikian gambaran dari hubungan yang positif antara kompetensi emosi dengan efektifitas kepemimpinan.
Maksud dari peran kompetensi emosi terhadap kompetensi kepemimpinan yaitu bahwa kompetensi emosi dapat digunakan sebagai fasilitas untuk mengembangkan kemampuannya dalam meningkatkan kinerja pribadi maupun kinerja organisasi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa antara kompetensi emosi dengan kompetensi kepemimpinan menandakan bahwa, kompetensi emosi memegang pengaruh penting dalam kesuksesan kepemimpinan.

Secara teoritis kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam manajerial, karena kepemimpinan maka proses manajerial akan berjalan dengan baik dan pegawai akan bergairah dalam melakukan tugasnya ( Hasibuan, 1996). Dengan kepemimpinan yang baik diharapkan akan meningkatkan kinerja pegawai seperti yang diharapkan baik oleh karyawan maupun organisasi yang bersangkutan.

Faktor kepemimpinan memainkan peranan yang sangat penting dalam keseluruhan upaya untuk meningkatkan kinerja, baik pada tingkat kelompok maupun pada tingkat organisasi. Dikatakan demikian karena kinerja tidak hanya menyoroti pada sudut tenaga pelaksana yang pada umumnya bersifat teknis akan tetapi juga dari kelompok kerja dan manjerial ( Sukidjo Noto Atmodjo, 2003).

            Pemimpin yang baik harus memiliki empat macam kualitas yaitu kejujuran, pandangan kedepan, mengilhami pengikutnya, dan kompeten. Pemimipin yang tidak jujur tidak akan dipercaya dan akhirnya tidak mndapat dukungan dari pengikutnya. Pemimpin yang memiliki pandangan  kedepan adalah memiliki visi kedepan yang lebih baik.
        Pemimipin yang efektif adalah yang;
1.      Bersikap luwes.
2.      Sadar mengenai diri kelompok, dan situasi.
3.      Memberi  tahu bawahan tentang setiap persoalan dan bagaimana pemimpin pandai dan bijak menggunakan wewenangnya.
4.      Mahir menggunakan pengawasan umum dimana bawahan tersebut mampu dan mau mengerjakan sendiri pekerjaan harian mereka sendiri dan mampu menyelesaikan pekerjaan dalam batas waktu yang ditentukan.
5.      Selalu ingat masalah mendesak, baik keefektifan jangka panjang secara individual maupun kelompok sebelum bertindak.
6.      Memastikan bahwa keputusan yang dibuat sesuai dan tepat waktu baik secara individu maupun kelompok.
7.      selalu mudah ditemukan bila bawahan ingin membicarakan masalah dan pemimpin menunjukan minat dalam setiap gagasannya.
8.      Menepati janji yang diberikan kepada bawahan, cepat menangani keluhan, dan memberikan jawaban secara sungguh-sungguh dan tidak berbelit-belit.
9.      Memberikan petunjuk dan jalan keluar tentang  metode/mekanisme pekerjaan dengan cukup, meningkatkan keamanan dan menghindari kesalahan seminimal mungkin.


Sumber:

Lukluk A, zuyina & Bandiyah, Siti. 2011. Psikologi Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika
Nofi Fidiyanti.2009. pengaruh kepemimpinan terhadap perilaku citizenship, kepuasan kerja dan komitmen organisasional. (http://etd.eprints.ums.ac.id/5340/2/b200050124.pdf).diakses 8/12/2012
Arumwardhani, Arie. 2009. Peran Kompetensi Emosi Terhadap Kompetensi Kepemimpinan. (http://Isjd.Pdii.Lipi.Go.Id/Admin/Jurnal/13094854_2086-3047.Pdf)diakses 8/12/2012
Dulbert Tampu bolon, Biatna. 2008. Analisis Faktor Gaya Kepemimpinan dan Faktor Etos Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Organisasi Yang Telah Menerapkan SNI 19-9001-2001 (http://Www.Bsn.Go.Id/Files/@Litbang/Formulir%20js%20vol%209%20no%203%202007/4%20-%20analisis%20faktor%20gaya%20kepemimpinan.Pdf)diakses 8/12/2012.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar