PSIKOLOGI
KESEHATAN
“
PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA DALAM KEPEMIMPINAN”
OLEH
HERLINA
F1D2
10 130
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS
HALUOLEO
KENDARI
2012
PSIKOLOGI DAN PENERAPANNYA DALAM
KEPEMIMIPINAN
A.
Definisi
Ø Definisi
psikologi
Menurut Wilhem Wundt (1832-1920) memberikan
batasan pengertian psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang
mempelajari/menyelidiki pengalaman yang timbul dalam diri manusia seperti
pengalaman perasaan, panca indra, merasakan sesuatu, berfikir dan berkehendak ;
bukannya mempelajari/menyelidiki pengalaman di luar diri manusia karena pengalaman
demikian menjadi objek penyelidikan ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan alam
(fisika).
Menurut broadus Warson (1842-1910) seorang ahli
psikologi Amerika Serikat berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari tingkah laku lahiriah manusia dengan menggunakan metode-metode
observasi (pengamatan) secara objektif seperti terhadap ransangan (stimulus)
dan jawaban (respons) yang menimbulkan tingkah laku, psikologi bukan
mempelajari tentang kesadaran manusia.
Menurut George A. Miller seorang sarjana
psikologi Amerika Serikat mendefinisikan psikologi sebagai ilmu psikologi
dengan demikian mempunyai obyek pembahasan yang berupa pengetahuan tentang
mental manusia. Mental atau jiwa manusia secara keseluruhan.
Ø Definisi
Kepemimpinan
Definisi
kepemimpinan secara luas meliputi proses pempengaruhi dalam menentukan tujuan
organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi
interpretasi mengenai
peristiwa-peristiwa para pengikutnya, pengorganisasisan dan aktivitas-aktivitas
untuk mencapai sasaran, memelihara hubungan kerja sama dan kelompok, perolehan
dukungan dan kerja sama dan orang-orang diluar kelompok ata organisasi.
Jadi
pada hakekatnya esensi kepemimpinan adalah :
a. Kemampuan
mempengaruhi tatalaku orang lain, apakah dia pegawai bawahan, rekan sekerja
atau atasan.
b. Adanya
pengikut yang dapat dipengaruhi baik oleh ajakan, anjuran, bujukan, sugesti,
perintah, saran atau bentuk lainnya.
c. Adanya tujuan
yang hendak dicapai.
Kepemimpinan
dalam penelitian Hersey dan Blanchard
(1988) adalah proses mempengaruhi kegiatan individu atau kelompok dalam
usaha mencapai tujuan pada situasi tertentu. Hasil penelitian Palupi (2004)
menyatakan ada dua kepemimpinan yang biasa diperlihatkan oleh atasan.
·
Pertama yaitu kepemimpinan transaksional
yakni kepemimpinan yang didasarkan pada transaksi untuk setiap pekerjaan yang
dihadapi pemimpin dan menitikberatkan imbalan berupa ganjaran atau berupa
hukuman atas hasil kerja yang diperintahkan.
·
Kedua adalah kepemimpinan
transformasional yakni kepemimpinan yang dinamis dan selalu mengadakan
pembaharuan, pimpinan seperti ini akan selalu memotivasi bawahan untuk bekerja
guna mencapai sasaran, karena kesadaran sebagai pendorong , fasilitator dan
katalisator.
B.
Psikologi
Dan Penerapannya Dalam Kepemimipinan
Penerapan
psikologi dalam kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil
kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan
seorang pemimpin ketika ia mencoba mempengaruhi kinarja bawahannya.
Dalam
psikologi kepemimpinan memiliki tiga pola dasar yaitu yang mementingkan
pelaksanaan tugas, yang mementingkan hubungan kerja sama, dan yang mementingkan
hasil yang dapat dicapai. Sehingga sikap kepemimpinan yang paling tepat adalah
suatu sikap yang dapat memaksimumkan produktivitas, kepuasan kerja, penumbuhan
dan mudah menyesuaikan dengan segala situasi.
Kepemimpinan,
sampai hari ini tetap dianggap sebagai faktor yang sangat penting. Frost (2003)
menekankan bahwa akibat krisis kepemimpinan, banyak orang yang menderita, yang
mengalami burn-out, yang tidak dapat menikmati hidup dalam pekerjaannya,
serta banyak biaya yang dikeluarkan untuk mengobati sakit emosional di tempat
kerja.
Menurut
Locke (2002) pemimpin yang efektif dalam hubungan dengan bawahan adalah
pemimpin yang mampu meyakinkan mereka bahwa kepentingan pribadi dari bawahan
adalah visi pemimpin, serta mampu meyakinkan bahwa mereka mempunyai andil dalam
mengimplementasikannya
Teori
Tappen (1995) menjelaskan bahwa pemimpin yang efektif adalah seseorang yang
berhasil mempengaruhi orang lain untuk bekerjasama dalam keadaan produktif dan
keadaan yang memuaskan, serta teori Gibson (1997) mengatakan bahwa salah satu
faktor yang mempengaruhi kinerja individu dalam organisasi adalah kepemimpinan.
Ini artinya jika pemimpin efektif dalam memimpin maka akan memberi dampak
positif terhadap kinerja anggotanya, dan sebaliknya apabila pemimpin tidak
efektif akan memberikan dampak yang negatif terhadap kinerja anggotanya. Kepemimpinan
yang efektif akan menciptakan suasana kerja yang nyaman bagi anggotanya
sehingga anggotanya akan menyadari dan mau meningkatkan kemampuan dalam
meningkatkan kinerjanya.
Kompetensi
seseorang dalam memimpin perubahan yang selalu terkait dengan kemampuan
kognitifnya (misalnya kemampuan dalam mendefinisikan dan mengelola suatu
masalah). Kompleksitas kognitif perlu untuk mengembangkan mental yang lebih
baik, serta kematangan emosional sangat diperlukan untuk belajar dari
kesalahan-kesalahan, sedangkan fleksibilitas diperlukan untuk mengubah asumsi
dan cara-cara berfikir sebagai tanggapan atas perubahan dunia yang memerlukan
kecerdasan spiritual ( Conger, 1993).
Peran
kompetensi kepemimpinan telah banyak diuji di berbagai situasi, terutama dalam
menyelesaikan konflik yang timbul dalam perusahaan. Dalam memandang
permasalahan yang terjadi baik di lingkungan internal maupun eksternal,
pemimpin yang kompeten sekalipun akan dituntut untuk memiliki kecerdasan emosi.
Pemimipin yang memiliki kecerdasan emosi dapat menunutun orang lain untuk mampu
melakukan kearifan hidup. Kearifan itu sendiri berasal dari penerapan
kecerdasan spiritual untuk memahami persoalan utama dalam kehidupan ( Salim,
1999).
Sebuah
penelitian yang dilakukan di India bahwa para pemimpin organisasi yang memiliki
kompetensi emosi rendah dalam memimpin organisasi akan menghasilkan
produktifitas rendah dan cara pengelolaan yang rendah (tidak berkenbang) pula.
Hal ini dapat dilihat dari kreatifitas dan komunikasi yang dilakukannya dalam
membahas visi dan nilai-nilai organisasi dalam upayanya membenahi sumber daya
manusia yang terdiri atas bermaca-macam individu, kepercayaan, ide-ide, dan
cara-cara berpikir serta berprilaku (Punia, 2003).
Dalam
merumuskan kompetensi emosi dari pengaruh seorang pemimpin, baik secara
kelompok, departemen, maupun dalam organinasi, banyak pemimpin yang bisa
memelihara keseimbangan tersebut dengan menjaga motivasi aturan model yang
positif dalam dirinya sebagai sarana untuk memberikan motivasi dan inspirasi
terhadap karyawan di lingkungannya. Demikian gambaran dari hubungan yang
positif antara kompetensi emosi dengan efektifitas kepemimpinan.
Maksud
dari peran kompetensi emosi terhadap kompetensi kepemimpinan yaitu bahwa
kompetensi emosi dapat digunakan sebagai fasilitas untuk mengembangkan
kemampuannya dalam meningkatkan kinerja pribadi maupun kinerja organisasi.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa antara kompetensi emosi dengan kompetensi
kepemimpinan menandakan bahwa, kompetensi emosi memegang pengaruh penting dalam
kesuksesan kepemimpinan.
Secara
teoritis kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dalam manajerial,
karena kepemimpinan maka proses manajerial akan berjalan dengan baik dan
pegawai akan bergairah dalam melakukan tugasnya ( Hasibuan, 1996). Dengan
kepemimpinan yang baik diharapkan akan meningkatkan kinerja pegawai seperti
yang diharapkan baik oleh karyawan maupun organisasi yang bersangkutan.
Faktor
kepemimpinan memainkan peranan yang sangat penting dalam keseluruhan upaya
untuk meningkatkan kinerja, baik pada tingkat kelompok maupun pada tingkat
organisasi. Dikatakan demikian karena kinerja tidak hanya menyoroti pada sudut
tenaga pelaksana yang pada umumnya bersifat teknis akan tetapi juga dari
kelompok kerja dan manjerial ( Sukidjo Noto Atmodjo, 2003).
Pemimpin yang baik harus memiliki
empat macam kualitas yaitu kejujuran, pandangan kedepan, mengilhami
pengikutnya, dan kompeten. Pemimipin yang tidak jujur tidak akan dipercaya dan
akhirnya tidak mndapat dukungan dari pengikutnya. Pemimpin yang memiliki
pandangan kedepan adalah memiliki visi
kedepan yang lebih baik.
Pemimipin yang efektif adalah yang;
1. Bersikap
luwes.
2. Sadar mengenai
diri kelompok, dan situasi.
3. Memberi tahu bawahan tentang setiap persoalan dan bagaimana
pemimpin pandai dan bijak menggunakan wewenangnya.
4. Mahir menggunakan
pengawasan umum dimana bawahan tersebut mampu dan mau mengerjakan sendiri
pekerjaan harian mereka sendiri dan mampu menyelesaikan pekerjaan dalam batas
waktu yang ditentukan.
5. Selalu ingat
masalah mendesak, baik keefektifan jangka panjang secara individual maupun
kelompok sebelum bertindak.
6. Memastikan
bahwa keputusan yang dibuat sesuai dan tepat waktu baik secara individu maupun
kelompok.
7. selalu
mudah ditemukan bila bawahan ingin membicarakan masalah dan pemimpin menunjukan
minat dalam setiap gagasannya.
8. Menepati
janji yang diberikan kepada bawahan, cepat menangani keluhan, dan memberikan
jawaban secara sungguh-sungguh dan tidak berbelit-belit.
9. Memberikan
petunjuk dan jalan keluar tentang
metode/mekanisme pekerjaan dengan cukup, meningkatkan keamanan dan
menghindari kesalahan seminimal mungkin.
Sumber:
Lukluk A, zuyina & Bandiyah, Siti. 2011. Psikologi Kesehatan. Yogyakarta: Nuha
Medika
Nofi Fidiyanti.2009. pengaruh
kepemimpinan terhadap perilaku citizenship,
kepuasan kerja dan komitmen organisasional. (http://etd.eprints.ums.ac.id/5340/2/b200050124.pdf).diakses 8/12/2012
Arumwardhani, Arie. 2009. Peran Kompetensi Emosi Terhadap Kompetensi Kepemimpinan. (http://Isjd.Pdii.Lipi.Go.Id/Admin/Jurnal/13094854_2086-3047.Pdf)diakses
8/12/2012
Dulbert Tampu bolon, Biatna. 2008. Analisis Faktor Gaya Kepemimpinan dan Faktor Etos Kerja Terhadap
Kinerja Pegawai Pada Organisasi Yang Telah Menerapkan SNI 19-9001-2001 (http://Www.Bsn.Go.Id/Files/@Litbang/Formulir%20js%20vol%209%20no%203%202007/4%20-%20analisis%20faktor%20gaya%20kepemimpinan.Pdf)diakses
8/12/2012.